Surau TV

Banner

Teknologi Satelit Tidak Cukup Menjadi Handalan untuk Mengetahui Titik Api di Indonesia

Image
Thursday, 14 January 2016 | 02:10:46 WIB


RIAU - Kebakakaran hutan bukan hanya menjadi persoalan Indonesia saja. Negara maju seperti Amerika Serikat juga mengalami kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun.

Diketahui, saat ini lima negara bagian di Negeri Paman Sam harus berjuang melawan lebih dari 10 kebakaran hutan utama yang melahap lahan 28.328 kilometer persegi.

Bahkan, setiap tahun situasi kebakaran makin buruk. Laporan menyebutkan, rata-rata jumlah kebakaran yang terjadi setiap tahun mencapai 78 persen sejak 1980-an.

Problem ini menjadi tantangan dalam menaklukkan kebakaran tersebut. Melihat problem akut tersebut, Presiden dan Chief Operating Officer Nerwe Technologies, Joe Cecin mengusulkan perlunya pendekatan teknologi.

Apalagi, kata dia, saat ini era ledakan data (big data) bisa dimanfaatkan untuk pencegahan kebakaran hutan.

Dilansir Techcrunch, Selasa 15 September 2015, Cecin mengatakan 'demam' drone bisa dimanfaatkan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan.

Perangkat terbang tanpa awak itu bisa dimanfaatkan untuk memantau titik kebakaran secara real time. Drone juga memiliki keunggulan dan keleluasaan untuk merekam titik kebakaran, sehingga informasi ini sangat berguna bagi petugas untuk melakukan tindakan penanganan yang tepat.

"Mendapatkan gambar udara yang lengkap secara efektif menekan biaya, dan tanpa membahayakan manusia. Ini juga dapat meningkatkan efektivitas pemantauan kebakaran secala lebih dini serta mengurangi dampak bagi kehidupan dan properti," ujar Cecin.

Sentuhan teknologi yang bisa digunakan yaitu Machine Learning. Ini merupakan pendekatan berbasis data yang memprediksi atas terjadinya sesuatu di masa depan.

Cecin mengatakan dengan memanfaatkan Machine Learning, maka petugas bisa lebih awal untuk bisa mencegah terjadinya kebakaran hutan.

"Dengan gambar dan video yang diambil oleh drone dan kamera yang ditempatkan scara strategis di daratan, pemadam kebakaran bisa melangkah melampaui teknis pemetaan atau sistem informasi geografis (GIS)" ujar Cecin.

Pendekatan Machine Learning, kata dia, sudah digunakan oleh lembaga keamanan dan penegak hukum dalam mencari target mereka atau menemukan ancaman terdekat.

Teknologi ini juga telah digunakan para merek pakaian olahraga untuk melihat seberapa sering logo mereka digunakan oleh publik.

Cara lain yang bisa ditempuh dalam penanganan kebakaran hutan, menurut Cecin, yaitu memasang sensor pada jaringan yang dirancang khusus untuk memantau kondisi hutan.

Sensor ini mendeteksi perubahan hutan secara lebih awal dan memprediksi apa yang akan terjadi dengan bekal data dari berbagai platform, misalnya pemantauan udara atau data lainnya.

Gagasan ini sudah diujicoba di Eropa dan diklaim cukup sukses. Peneliti di University of California San Diego, AS juga sudah menerapkan pendekatan sensor ini dalam menangani kebakaran hutan di California. Sistem ini disebutkan bisa memberikan analisa real time.

Cecin mengatakan media sosial juga bisa dimanfaatkan dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Dengan pantauan posting di media soaial bisa menjadikan bekal bagi petugas untuk mengetahui titik api atau asap.

"Ini menciptakan sistem peringatan dini saat kebakaran mulai atau sudah menyebar. Ini bisa menjadi sangat berguna, mengingat semakin banyak orang memilih di sekitar pingiran lahan hutan yang berisiko," ujar dia.

Salah satu bukti kontribusi media sosial yaitu kasus Smokey Bear, gerakan kampanye peduli kebakaran hutan di AS, yang berhasil mendidik penduduk sekitar hutan dalam kampanye pencegahan kebakaran.

Cecin mengatakan petugas bisa memanfaatkan media sosial untuk iklan layanan masyarakat dengan target pengguna spesifik. Misalnya di Facebook, petugas bisa mengedukasi pengguna muda untuk ikut terlibat peduli menjaga hutan dari kebakaran.

Menjadi kesimpulan bagi kita semua, teknologi satelit hanya dapat mendeteksi keberadaan titik api di suatu pulau atau daratan.  Teknologi berjenis atau berklasifikasi yang dapat mencegah terjadinya titik api adalah hal diperlukan.  Teknologi dan metode kanal merupakan antisipatif awal untuk memberi kelembaban pada lahan gambut di tengah-tengah hutan.

Harapan besar dari masyarakat yang tinggal di pulau Sumatera adalah, semoga tidak terjadi lagi darurat kabut asap di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan seperti di tahun 2015 lalu.

(nusapos.com/Andra)

Sumber :

Laporan :

Editor : 0

loading...
Post

Waspadai Stroke di Usia Muda

2 tahun yang lalu