PWNU Jatim Anjurkan Masyarakat Religius dan Nasionalis Jaga Keutuhan NKRI 

Image
Tuesday, 16 January 2018 | 21:33:52 WIB


SURABAYA - Kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 27 Juni 2018 memang ujian berat bagi Nahdlatul Ulama (NU). Sebab ada dua kader terbaik ormas keagamaan terbesar di Indonesia yang akan bersaing memperebutkan kursi Gubernur Jawa Timur yaitu Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa.   

Tak ayal, sejumlah nama besar kiai dan pondok pesantren juga diperebutkan dan diklaim oleh kedua kader NU yang sama-sama maju menjadi Bacagub Jatim untuk lima tahun ke depan. Badan otomon NU juga tak luput jadi sasaran obyek perebutan dukungan. Bahkan sesama warga NU kerab mengumbar aib sesama saudara hanya lantaran beda dukungan.

Tak ingin persoalan Pilgub Jatim mencabik-cabik ikatan persaudaraan sesama jamiyah, PWNU Jatim yang menaungi mayoritas warga NU di Jatim menggelar rapat khusus pada Selasa (16/1) di kantor PWNU Jatim jalan Masjid Al Akbar Surabaya.

Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah usai rapat mengatakan bahwa ada lima point hasil kesepakatan rapat. Pertama, para kiai sepuh NU Jatim berkomitmen harus kompak dan bersatu dan mencari jalan keluar dari kemelut terkait dengan reformasi kepemimpinan umat di tingkat Jatim tahun 2018.

Kedua, para kiai berpesan agar masyarakat Religius- Nasionalis harus tetap bersanding dengan saudara-saudaranya dari Nasional-Religius tidak hanya untuk kepentingan kontestasi Jatim saat ini saja namun lebih jauh demi kepentingan keutuhan, kedaulatan dan kehormatan NKRI.

Ketiga, lanjut pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo, para kiai NU Jatim berpesan agar seluruh jajaran pengurus NU Jatim baik harian lembaga dan Banom untuk menjaga ukhuwah nahdiyah. "Tidak boleh berpecah belah yang dipicu oleh beda pilihan politik praktis baik Pilgub/Pilkada  2018 maupun pemilu 2019," tegas Kiai Mutawakkil.

Keempat, tidak boleh ada lembaga di lingkungan NU Jatim yang menggunakan nama kelembagaannya untuk kepentingan politik praktis. Dan kelima, para kiai berpesan jangan membeli kucing dalam karung. Jangan mempertaruhkan kebesaran jamiyyah NU bila tidak jelas manfaatnya bagi jamiyyah NU.

"Harus ada kontrak dengan jamiyyah. Harus ada ikrar dengan jamiyyah NU. Reformasi harus ada manfaat bagi organisasi, bagi umat dan pesantren NU. Komitmen bukan pada kiai saja tapi pada utamanya komitmen pada jamiyyah dan pesantren-pesantren NU," pungkas Ketua PWNU Jatim. (tis)

 

Sumber : -

Laporan : Try Wahyudi Ary Setyawan

Editor : Red

loading...