Belajar dari Kisah Sukses Pengelolaan Air Got menjadi Air Bersih dengan Ecotech Garden

Ecotech Garden bisa Diterapkan di Pekanbaru

Image
Tuesday, 06 February 2018 | 09:15:46 WIB


PEKANBARU (nusapos.com)-  Saat kita mendengar kata air got, yang terlintas di pikiran kita, air ini tidak layak untuk diminum, kita merasa jijik, bahkan kita tidak melihat manfaat dari jenis air ini.  Beberapa waktu lalu, tepatnya di tahun 2017, beberapa orang Indonesia yang terpanggil untuk berupaya merubah air got menjadi jenis air yang bermanfaat, walau info ini dari Bandung, Jawa Barat,  telah menerapkan teknologi ini yang dinamakan Ecotech Garden.  Kali ini tidak ada salahnya kita simak informasi berharga berikut ini sebagai cara ataupun lahan garapan pekerjaan kelak menjadi kisah sukses berikutnya.

Air got adalah air limbah rumah tangga seperti bekas cuci piring, aliran air kamar mandi, sisa makanan, dan buangan deterjen. Air got sering disebut grey water. Yang menyebabkan air got (grey water) berbau tak sedap adalah kandungan amonia di dalamnya. Selain itu, air got mengandung zat pencemar lingkungan seperti nitrat, fosfat, BOD, COD, dan masih banyak lagi.

Tapi, tahukah anda bila sejumlah tanaman dapat menghilangkan bau air got dan menurunkan kadar pencemarnya? Bagaimana caranya? Ecotech Garden lah yang mungkin akan menjadi solusinya.

Ecotech garden atau taman berwawasan lingkungan dan teknologi, adalah cara bercocok tanam dengan tanaman hias liar pada aliran got. Air selokan atau got yang melewati tanaman akan diproses kadar penemarannya oleh tanaman-tanaman itu. Amonia, nitrogen, dan fosfor yang banyak terkandung dalam air got itu justru dibutuhkan oleh tanaman tertentu untuk pertumbuhannya, dan diserap.

Akhirnya, air got yang semula berbau dan penuh dengan unsur pencemaran, menjadi tidak berbau dan tidak tercemar lagi. Hal ini karena kadar ammonia dan zat pencemar lainnya seperti nitrat, fosfat, BOD, dan deterjen sudah menurun.

Dampaknya, air got yang sebelumnya keruh pun menjadi lebih bening.
Tanaman yang biasa dipakai untuk ecotech garden antara lain adalah arrow head, sagita japonica, melati air, cana air, potenderia  cordata, cyperus papyrus, dan typha angustifolia. Selain itu, tanaman mendong yang suka dibuat tikar di Tasikmalaya itu pun juga bisa digunakan sebagai media ecotech garden.

Sejak tahun 2005, Ratna Hidayat di Perumahan Padasuka Bandung telah menerapkan ecotech garden pada selokan di depan rumahnya. Caranya, air got itu ia bendung dan belokkan alirannya ke dalam halaman rumahnya. Kemudian, Ratna  membuat taman air pada got buatannya itu. Pada ujung kanan rumahnya, ia mengalirkan kembali air got itu ke got di depan rumahnya. Alhasil, pola belokan pada  ecotech garden nya itu menjadi semacam huruf “U”. Mungkin, ini adalah satu-satunya rumah di Bandung yang pemiliknya berani memasukkan air got ke dalam halaman rumahnya.

Ratna menanam berbagai tanaman air pada ecotech nya. Mulai dari melati air, cana air, mendong, potendeira, cyperus, arrow head, dan lain-lain. Hebatnya, ketika diuji laborat beberapa minggu berikutnya, kandungan pencemaran air got Ratna menjadi turun. Sebagai contoh, COD menurun 67 %, fosfor menurun 67 %, total solid menurun 90 %, deterjen menurun 92 %, dan amonia juga menurun 97 %.

Praktis, air got Ratna menjadi bersih dan sudah tak berbau lagi. Bahkan, karena sudah demikian bersihnya, Ratna berani menggunakan air gotnya untuk mencuci mobil. Iya, mencuci mobil. Kebayang kan, air got untuk mencuci mobil. Barangkali, hanya pensiunan peneliti Puslitbang Sumber Daya Air (Pusair) Bandung itu saja yang berani melakukannya.

Di tempat mantan kantornya Ratna dulu, Pusair, ecotech garden juga sudah diaplikasikan. Bahkan, volumenya lebih besar lagi dari sekedar air got di rumah, tapi sudah dalam skala fasum. Pasalnya, Pusair memang menjadikan ecotech garden sebagai model pembelajaran di kantornya. Karena itu, kali kecil di sebelah kantor pun dibendung sebagian dan dialirkan ke dalam halaman Pusair.

Selain disaring dengan aneka tumbuhan seperti metode Ratna di rumahnya, ecotech garden atau wetland treatment di Pusair disaring lagi dengan dua tahapan. Tahap pertama, air selokan diendapkan dalam clearifier lewat pipa-pipa pralon yang membuat kotorannya mengendap. Tahab kedua, air got itu disaring ketat lagi dengan cara dipompa ke menara mini satira untuk mengeluarkan racun-racunnya.

Hasilnya, air got itu sudah bersih dan tidak berbau lagi dengan derajat yang lebih baik dibanding ecotech gardennya Ratna. Sebagai contoh, ikan koi yang rentan pada air yang kotor itu pun bisa hidup di air got yang sudah disaring lewat rekayasa seperti ini. Selain itu, karyawan Pusair juga sudah biasa menggunakan air saringan got itu untuk mencuci motor mereka dan menyiram tanaman di kantor Pusair yang lumayan luas.

Jika metode rekayasa air got seperti ini bisa disebarluaskan, tentu penghematan pada kebutuhan air tanah di Indonesia bisa dikurangi. Pusair sudah memberi teladan karena mereka sudah tidak perlu lagi memakai air dari PDAM untuk menyiram tanaman atau untuk mencuci kendaraan mereka. Pasalnya, kebiasaan masayarakat selama ini saat menyiram tanaman adalah dengan air PDAM. Sungguh, suatu pemborosan air yang bisa dihindari.

Menurut Kepala Balai Lingkungan Keairan di PUSAIR Bandung, Eko Winar Irianto, Ecotech Garden merupakan upaya penting dalam upaya konservasi air tanah. Karena di luar negri, ecotech garden banyak digunakan sebagai upaya ketahanan air tanahnya. Pasalnya, ecotech garden bukan hanya bermanfaat untuk lingkungan, estetika, perikanan, atau pun ekonomi, tapi juga bisa berperan mencegah banjir. “Hal ini karena ecotech garden bisa berperan dalam meredam air limpasan yang berpotensi genangan, sehingga akhirnya menjadi run off (terserap tanah semua),” kata Eko.

Ecotech garden ini sebenarnya sudah coba dimulai dikenalkan dan dibangun Pusair di beberapa daerah. Baik di Bandung, Sumedang, Garut, hingga Jakarta. Namun, sangat disayangkan, semuanya terbengkalai dan tak diurus masyarakat. Padahal, masyarakat tidak mengeluarkan beaya untuk pembuatannya, dan tinggal memelihara. Namun, semuanya mangkrak dan bahkan sebagian diantaranya sudah tidak ada bekasnya sama sekali. 

Pakar lingkungan dari Teknik Lingkungan ITB, Barti Muntalif, sangat menyayangkan sikap masyarakat itu. Padahal, pendidikan lingkungan yang sudah tersedia di depan mata itu tidak murah harganya sehingga harusnya dimanfaatkan warga secara maksimal. Tapi, “Nampaknya kultur masyarakat saat ini masih lebih suka membangun sesuatu tapi tidak suka memelihara,” keluhnya.

Padahal, hingga saat ini 82 % air permukaan nasional berada di pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Sedangkan pulau Jawa sendiri hanya memiliki 4 % saja, atau 125.000 liter air/detik. Artinya, penduduk pulau Jawa mestinya lebih peduli pada persoalan air dibanding penduduk pulau lainnya, karena stok airnya jauh lebih sedikit.

Jika kita pelajari info teknologi di atas, berarti tidak menutup kemungkinan kita di Riau, mengelola air payau ataupun air dari lahan gambut di sekitar Pekanbaru, serta dari kabupaten lainnya.  Perihal yang paling penting di antara sekian banyak upaya adalah perhatian dan kemampuan besar dari pemerintah kota Pekanbaru dan juga pemerintah provinsi Riau untuk dapat benar-benar merealisasikan ini.

Saatnya bagi penduduk Riau untuk bertindak dan menyelamatkan konservasi airnya. Yuk, ikutan dalam konservasi air tanah dengan memulai ecotech garden !

Sumber : (Intan Kusumadewi T. J/ Mahasiswa Biologi ITB 2014)

Laporan : Andra - Nusapos.com

Editor : Andi Saputra

loading...