BNNP Riau: Riau Darurat Narkoba

Image
Thursday, 10 May 2018 | 19:37:50 WIB


PEKANBARU: Maraknya peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) di Provinsi Riau akhir-akhir ini menjadikan provinsi ini sebagai darurat narkoba. Kondisi ini jelas sangat berbahaya, untuk mengatasinya membutuhkan peran serta seluruh komponen masyarakat.


Hal tersebut diungkapkan Kasi Penyidikan Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau (BNNP Riau) Khodirin usai bertemu dengan pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), di Balai Adat Melayu Riau, Rabu (9/5/2018).


Menurut Khodirin, dari pertemuannya dengan pengurus LAMR, lembaga ini mengajak BNNP Riau  untuk bekerja sama bagaimana mengatasi agar Riau tidak lagi sebagai provinsi darurat narkoba. 


“LAMR menampung keperluan yang diiinginkan BNNP Riau supaya kami bisa maksimal dalam menjalankan tugas dalam memberantas peredaran  narkoba di Provinsi Riau,” kata Khodirin.


Untuk mengatasi kondisi Riau yang sudah dikategorikan sebagai darurat narkoba membutuhkan peran serta dari masyarakat terutama LAMR yang berperan serta mengajak semua komponen masyarakat dalam mencegah, memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Provinsi Riau. 
"Pemberantasan narkoba tidak bisa dibebankan kepada petugas saja, namun membutuhkan peran serta masyarakat,” kata Khodirin.


Menurut dia, hal ini mengacu pada Undang Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika disebutkan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta membangun pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.


Hal yang menjadi indikasi Riau darurat narkoba terlihat dari tingginya kerawanan penyebaran narkoba. Khodirin memberi contoh Polres Dumai sudah menangkap 55 kilogram shabu shabu sebanyak 47.000 ribu butir ekstasi, BNN Pusat menangkap 20 kilogram di Dumai, Polsek- Polresta Pekanbaru menangkap 4 kilogram, dan pihak bandara  menangkap 2 kilogram shabu shabu. “Hal ini berarti cukup riskan, jalur-jalur narkoba melalui Riau cukup tinggi lintasan peredaran narkobanya,” ujarnya.
Menyinggung upaya yang dilakukan BNNP Riau, menurut Khodirin, pihaknya sudah melakukan upaya penindakan, penyuluhan, termasuk penindakan secara hukum juga sudah dilakukan. “Bahkan, sudah dilakukan penangkapan sindikat narkoba dari Malaysia dengan jenis hukumannya hukuman mati pada tahun 2017,” ujarnya.


Menurut Khodirin, seiring upaya pemberantasan penyebaran di Provinsi Riau, pihaknya membutuhkan perangkat alat penyadap IT yang harganya sangat fantantis dengan harga satu unit sampai Rp14 miliar. Untuk ini, dia berharap adanya bantuan dari Pemprov Riau. “Kalau ini tidak didukung oleh Pemprov, mungkin  kalau menunggu dari Pusat entah sampai kapan,” ujarnya.


Berkaitan dengan keperluan ini, menurut Khodirin, pengurus LAMR akan berupaya membantu menfasilitasi dengan menghubungi Pemprov Riau agar BNNP mendapat dukungan sarana dan prasarana berkaitan dengan tugasnya mencegah, memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.


“Kepada masyarakat Riau, saya berharap berperan serta secara bersama-sama. Jangan takut memberikan informasi kepada petugas dan tidak usah takut melakukan penangkapan. Serahkan kepada kami atau petugas supaya bisa kita ‘ambil’,” ujarnya. 

Sumber : Rls

Laporan : -

Editor : Red

loading...