Pasca Seminar Internasional

Pemkab-Kemenristekdikti Sepakat Akan Bahas Rekomendasi Seminar Dengan Kementerian Terkait

Image
Wednesday, 22 August 2018 | 17:35:09 WIB


PELALAWAN -Seminar Internasional bersempena Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 23 tahun 2018 bertema “Pencapaian Industri Sawit  berkelanjutan Berdaya Saing Global Dengan Teknologi,Inovasi Dan Edukasi Masyarakat Persawitan” yang digelar pada tanggal  9 Agustus 2018 di Auditorium Gedung Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) dikawasan Teknopolitan Pelalawan Dikecamatan Langgam berhasil dengan  sukses dilaksanakan Pemkab Pelalawan.Dari hasil seminar Internasional yang menghadirkan narasumber dari berbagai pakar ahli dan dari para petinggi dikementerian terkait melahirkan beberapa pokok pikiran yang dirumuskan kedalam rekomendasi  hasil seminar untuk dibahas ditingkat kementerian terkait yang telah menjadi kesepakatan antara Pemkab Pelalawan dengan Kemenristek Dikti kedepannya

Pada seminar Internasional digelar di Kampus ST2P Pelalawan yang dibuka langsung Menteri Perindustrian diwakili Sekjen Kementerian Perindustrian Harris Munadar didampingi Bupati Pelalawan HM Harris  pada minggu kemarin menghadirkan para pemateri seminar yaitu Menteri Perindustrian diwakili Sekjen Kementerian Perindustrian Dr Harris Munandar MA,Menristekdikti Frof H Mohammad Nasir Ph.D,Ak,Direktur Utama Badan Pe ngelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami,Kepala BPPT Dr Ir Unggul Priyanto M.Eng,Guru Besar Universitas Teknologi Malaysia Prof Dr Ing Eko Supriyanto,Guru Besar Universitas Tsukuba Jepang Prof Makoto M Watanabe Ph.D,Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) Dr Darmono Taniriyano,Wakil Ketua Minyak Sawit Indonesia Ir Sahat M Sinaga,Rektor Institut Pertanian Yogyakarta Dr Ir Purwadi Ms,Direktur E Bio Advenced Teknologi Jepang Toshihide Nakajima,Dirjend Kelembagaan IPTEKDIKTI Kemenristekdikti Dr Ir Patdono Suwignjo M,Eng, Sc,United Nations Development Programs UNDP) Indonesia Tomoyuki Uno dihadiri Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Dr Ir Gatot Dwiyanto M,Eng Teknologi, Direktur Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi BPPT Dr Ir Adiarso M.Sc, Forum FK{D Riau Dan Forum FKPD Pelalawan dan para pejabat Pemda Kabupaten/kota se-Riau,Nations Project Directur Sustainable Palm Oil Initiative UNDP Indonesia Ir Dedi Junaedi M.Sc, Direktur PPKS Medan, Delegasi Harteknas dari Pemerintah Provinsi,kabupaten/kota se-Indonesia,Pimpinan Asosiasi Industri Hilir dan Hulu Kelapa Sawit dan pimpinan perusahaan,Para rektor dari perguruan tinggi negeri dan swasta,akademisi, dan para peneliti dari dalam negeri dan luar negeri,Para tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi, dan masyarakat persawitan.


Sekjen Kementerian Perindustrian RI Dr Harris Munandar berikan sambutan saat Buka Seminar Internasional dikampus ST2P Pelalawan diLanggam (9/8/2018) kemarin.  

Dalam Sambutannya,Bupati Pelalawan HM Harris dihadapan peserta seminar Internasional menuturkan bahwa dalam upaya menanamkan kesadaran pada masyarakat akan nilai strategis peranan bagi prestasi ilmu pengetahuan,teknologi dan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa maka pemerintah melalui keputusan Presiden RI nomor 71 tahun 1995 menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai hari kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas).”Untuk itu, tahun 2018 peringatan Hakteknas ke 23 dilaksanakan diprovinsi Riau dengan tema “Inovasi dan Kemandirian pangan dan energi”, dengan sub tema “sektor pangan dan energi diera revolusi Industri 4.0” serta mengusung tagline “Inovasi Bangun Bangsa”,’terang HM Harris.
    
Pelaksanaan peringatan Hakteknas tahun ini, sebut Bupati menjadi istimewa  bagi provinsi Riau karena bertepatan HUT Provinsi Riau ke 61 dengan Tema Transpormasi menuju kemakmuran.Pada kesempatan ini, Kabupaten Pelalawan mengucapkan tahniah digelarnya Seminar Internasional ini sebagai bukti nyata Pemkab Pelalawan bertransformasi meningkatkan kemakmuran masyarakat.”Provinsi Riau menyelenggara Hakteknas 2018 karena predikat Riau sebagai lumbung energi nasional dan menjadi penyangga utama kebutuhan pangan disektor pertanian dan perkebunan dipulau Sumatera.”Disektor perkebunan kelapa sawit sebagai komoditi berkontribusi besar bagi PDRB kabupaten Pelalawan.Sehingga Industri sawit di Pelalawan telah memberikan lapangan kerja sebagai sumber pendapatan besar bagi masyarakat.Karena perkebunan sawit di Pelalawan seluas 307.126 hektar dan yang dikelola petani sawit seluas 119.131 hektar (38 persen).Sebagai upaya pengembangan wilayah,Pemda Pelalawan telah mencanangkan komersialisasi riset dan teknologi kelapa sawit dengan mengembangkan kawasan teknopolitan seluas 3.574 hektar terluas di Indonesia bergerak di bidang Penerapan Teknologi kelapa  sawit sejak tahun 2012 lalu yang menjadi bagian 100 tekno park dan sebagai salah satu dari 5 techhno park percontohan diindonesia yang didukung langsung pihak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi {BPPT} sebagai wahana edukasi pengembangan inovasi dan teknologi berbasis sawit,”ujar Bupati Pelalawan.


Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti menutup SEMINAR INTERNASIONAL DALAM RANGKA HARI TEKNOLOGI NASIONAL (HARTEKNAS) YANG KE-23 Tahun 2018 Digelar diKampus ST2P Pelalawan di L:anggam.

Dijelaskan Bupati, kawasan teknopolitan dikabupaten Pelalawan dibagi 7 zona yaitu zona pendidikan,zona riset,zona industri,zona pemukiman,zona konservasi,zona komersial, dan zona publik.Khusus zona pendidkan seluas 100 hektar sebagai lokasi telah berdirinya  Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) yang sudah beroperasi sejak 2016 kemarin yang kurikulum sesuai kebutuhan industri sawit. Perguruan Tinggi ST2P Pelalawan yang dikelola Yayasan Amanah Pelalawan dengan didukung dana pembiayaan dari Pemda Pelalawan dan bantuan program CSR perusahaan.”Kini jumlah mahasiswa yang belajar di ST2P Pelalawan sudah sebanyak 103 orang  ini  menjadi pilar utama penyiapan sumber daya manusia penggerak aktivitas dikawasan teknopolitan DiPelalawan.Hal iini sebagai bentuk kontribusi daerah akan pengembangan peningkatan penyediaan SDM berkualitas yang juga menjadi program fokus pemerintah pusat.Kami sangat butuh dukungan pemerintah pusat dalam mewujudkan Kawasan Teknopolitan ini. Sebagai pusat pendidikan dan inovasi teknologi di bidang industri kepala sawit., sekitar 75 persen masyarakat Pelalawan menggantungkan hidup melalui perkebunan sawit,"urainya.
    
Sebagai upaya mewujudkan visi dan misi pengembangan pembangunan kawasan teknoplitan Pelalawan, dengan pembangunan berbasis masyarakat lanjut Bupati menerangkan, akan dilakukan upaya pemberdayaan revitalisasi pada kebun sawit masyarakat sekaligus akan M membangun berbagai pabrik untuk mewujudkan kemandirian dan fungsionalisasi kawasan teknopolitan Pelalawan kedepannya yang telah menjadi kesepakatan antara Pemkab Pelalawan dengan pihak BPPT,PT.Rekayasa Engineering,PT.Pindad Persero,Dewan minyak sait Indonesia dan PPKS Medan.  “Dari kesepakatan berbagai lembaga itu,akan dilakukan dengan menghimpun petani swadaya dalam korporasiuntuk dikorporatisasi,akan dilakukan pengelolaaan dari perorangan menjadi manajemen korporasi untuk menerapkan praktek budidaya secara lebih mudah dan efektif nantinya.Selain itu,akan dilakukan sertifikat lahan yang disejalankan dengan program TORA,pengurusan dan perolehan sertifikat ISPO,pembangunan pabrik sawit oleh koperasi bekerjasama dengan pihaga dengan sistem BOT dengan target 4 tahun pabrik menjadi milik koperasi. Kemudian akan membangun berbagai pabrik pengolah limbah dan produk ikutan sebagai sumber pendapatan koperasi,”terang Bupati Pelalawan.
    
Sekjen Kementerian Perindutrian Dr Harris  Munandar  mewakili Menteri Perindustrian Air Langga saat membuka Seminar Internasional dikampus ST2P Pelalawan Kamis (9/9/2018) kemarin menyampaikan beberapa pesan terkait perindustrian kelapa sawit di Indonesia, termasuk perkembangan teknologi dalam industri hulu maupun hilir sawit yang akan dikembangkan di ST2P."Perkembangan teknologi harus selaras dengan dunia industri kelapa sawit. “Karena sekarang  banyak kampanye hitam terhadap dunia industri kelapa sawit di Indonesia yang menjadi pengekangan dan ancaman tersendiri di negara ini yang hembuskan oleh dunia Eropa dengan tuduhan iIsu yang dihembuskan yakni kelapa sawit Indonesia tidak ramah lingkungan, merusak alam, hingga kebun sawit yang dibangun dalam kawasan hutan.Kampanye hitam Ini harus dilawan dengan menunjukan kualitas sawit Indonesia yang berdaya saing tinggi dan ramah lingkungap.Begitu juga para penelitian terhadap turunan kelapa sawit yang dijadikan menjadi komoditi tersendiri menjadi tugas bersama supaya mampu menyaingin isu negatif atas dunia kelapa sawit Indonesia itu,”tegas Sekjen Kementerian Perindustrian.


Terlihat Para narasumber yang hadir sebagai memateri diacara Seminar Internasional digelar dikampus ST2P Pelalawan dikecamatan Langgam kemarin.

Sementara Kepala Bappeda Pelalawan Drs  M Syahrul Syarif M.Si kepada Nusapos.com Rabu (15/8/2018} diruangkerjanya diPangkalan Kerinci mengaku bahwa dari hasil seminar Internasional dikampaus ST2P Pelalawan digelar (9/8/2018) kemarin dengan menghadirkan para pakar ahli dari berbagai lembaga dan dari berbagai kementerian terkait pencapaian industri sawit berkelanjutan dan berdaya saing global dengan teknologi,inovasi dan edukasi masyarakat persawitan tersebut telah menghasilkan pokok-pokok pikiran untuk dirumuskan kedalam rekomendasi dari hasil kegiatan seminar tersebut. “Sebagai tindak lanjut dari hasil seminar Internasional kemarin,kita sudah merumuskan pokok-pokok pikiran dari pemaparan masing-masing narasumber sebagai pemateri pemakalah diseminar tersebut.Ada lima pokok pikiran yang bisa kita simpulkan untuk dijadikan acuan untuk dirumuskan kedalam rekomendasi seminar Internasional kemarin itu,”jelas Kepala Bappeda Pelalawan.


Kepala Bappeda Pelalawan Drs M Syahrul Syarif M.Si melakukan audiensi dengan Dirjen Kelembagagaan Kemenristekdikti di Jakarta dan melakukan melakukan Rapat Teknis Pengembangan POME di Kabupaten Pelalawan dengan Tim dari  Tsukuba University Jepang dan Takasago Thermal Energy Jepang terkait persiapan acara Seminar Internasional digelar Kampus ST2P Pelalawan (9/8/2018) kemarin dikecamatan Langgam.

Adapun lima pokok-pokok pikiran dari hasil seminar Internasional tersebut jelas M Syahrul lebih lanjut memaparkan, bahwa pertama, ada tiga tantangan terbesar dimasa depan adalah masalah ketersediaan air,pangan, dan energi.Kedua, terkait kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia karena kontribusi terhadap devisa,sumber pangan dan energi.Ketiga, pengembangan kelapa sawit menghadapi permasalahan seperti masalah produktivitas rendah,nilai tambah produk dan  by produk masih rendah belum  mengarah pada berkela njutan (PSG),tata kelola kelapa sawit masih rendah, dan kampanye negative terhadap produk kelapa sawit dari Uni Eropa dan Amerika.Keempat,dalam rangka menjamin keberlanjutan pengelolaan kelapa sawit diperlukan adanya perumusan kebijkan pengelolaan hulu hingga hilir dan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Industri (RIPTEKIN)  yang sesuai, pemanfaatan hasil-hasil  riset dan inovasi  bidang perkelapasawitan,pemberdayaan petani sawit skala kecil melalui edukasi dan kebijakan afirmasi, penguatan pembiayaan bidang perkelapasawitan melalui perbankan dan non perbankan, dan penguatan dan dukungan kawasan sain dan teknologi berbasis kelapa sawit sebagai wahana pengembangan pendidikan,riset, diseminasi teknologi dan komersilisasi teknologi perkelapasawitan.

”Kemudian kelimanya,pokok-pokok hasil seminar tersebut akan dirumuskan kedalam rekomendasi teknis program dan kegiatan yang melibatkan semua  stakeholder dari kalangan pengusaha,peneliti,akademisi dari berbagai perguruan tinggi,perbankan,perwakilan dari kementerian dan lembaga serta segenap pemangku kepentingan di industri sawit nasional.Dengan demikain sehingga pokok-pokok hasil seminar yang akan dirumuskan kedalam rekomendasi teknis akan disampaikan panitia hakteknas ke 23 tahun 2018 untuk dijadikan bahan pembahasan kelanjutan Pelalawan sebagai tindaklanjut dari hasil rekomendasi seminar Internasional yang kita laksanakan kemarin tersebut.Karena hasil dari pembicaraan kita dengan pihak Kemenristekdikti terkait hasil seminar itu nantinya.Untuk mempersiapkan bahan yang akan dibahas dikemenristekdikti itu,sekarang kami sedang menggodok rencana besar program kegiatan, rincian dan perkiraan anggaran yang akan dilengkapi untuk dijual yang diacara pembahasan hasil seminar yang direkomendasikan yang akan digelar di Kemenristekdikti nantinya, ”tegas Kepala Bappeda Pelalawan.

 

Ketua Sekolah Tinggi Tekonologi Pelalawan (ST2P) Prof Dr Detri Karya selaku Ketua Pelaksana Seminar Internasional yang digelar dikampus ST2P Pelalawan kepada Nusapos.com ditemui dikantor Bappeda Pelalawan Rabu (15/8/2018) kemarin di Pangkalan Kerinci mengatakan bahwa dari hasil seminar Internasional (9/8/2018) kemarin dapat disimpulkan tentang begitu pentingnya ditingkatkan produksi pemanfaatan hasil produksi  seperti bio diesel dan turunannya dan pemanfaatan pengelolaan limbah sawit supaya nilai ekonominya bisa jadikan harga naik.”Disamping itu perlu diperhatikannya efek jangka panjang terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit  untuk lebih terjaga  stabilnya pada harga sawit yang diharapkan masyarakat petani sawit karena pemanfaatan yang lebih luas yang bisa menyebabkan permintaan CPO lebih meningkat.Kemudian adanya tanggapan dari beberapa negara seperti Rusia menyebutkan bahwa minyak sawit lebih unggul manfaatnya dibandingkan dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari.Khusus mengatasi kampanye hitam dilakukan negara Unieropa dan Amerika terhadap minyak sawit Indonesia supaya dikonter isu negatif tersebut oleh pemerintah pusat,”tegas mantan rektor UIR Pekanbari itu. 

Sumber : Advertorial

Laporan : Suhemri Hasan

Editor : Red

loading...
Post

BRK Raih Platinum Award

1 bulan yang lalu