Masih Ada Sekolah yang Melarang Siswa Ikut UN karena Belum Bayar SPP
Siswi Yatim Piatu Dilarang UN Karena Nunggak SPP
Karena perlakuan ini, semangat belajar Khairani menurun. Nilai akademisnya selalu turun. Walau sebenarnya, mulai sejak SMP, dia selalu langganan juara kelas. Dia tidak pernah terlepas dari predikat juara satu atau dua.
" Saat ini sepuluh besar saja, " katanya.
Khairani juga bercerita, perlakuan diskriminatif pihak sekolah ini pernah dia rasakan sejak menjadi siswi SMPN 44. Bahkan juga hingga sekarang ini pihak SMPN 44 masihlah menahan ijazahnya karena Khairani masihlah mempunyai beberapa tunggakan biaya sekolah. Totalnya sekitar Rp 18 juta.
" Katanya gratis, cocok ingin ambillah ijazah harus bayar Rp 18 juta, " tutur wanita yang ditinggal mati ibunya saat masihlah SD ini.
Menanggapi aduan ini, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Muhammad Yunus, memohon Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam segera turun tangan. Dia juga memohon Disdik Kota Batam memberi sanksi pada sekolah yang semena-mena itu.
" Bila perlu izinnya dicabut. Ada bantuan dari pemerintah, saat menolong orang miskin tidak dapat, " katanya.
Tetapi, pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadyah Batam di Batuaji membantah Khairani dilarang ikut UN karena menunggak SPP. Pihak sekolah menilainya langkah Khairani yang menyampaikan permasalahan ini ke DPRD Batam adalah aksi yang berlebihan.
Wakil Kesiswaan SMK Muhammadiyah Batam, Agus, membetulkan bila Khairani memiliki tunggakan senilai Rp 4. 110. 000. Tunggakan itu terbagi dalam uang SPP mulai September 2015 sebanyak Rp 2. 445. 000 dan sisanya yaitu tunggakan administrasi sekolah.
Akan tetapi, Agus menyatakan pihak sekolah sekalipun tidak keluarkan larangan pada Khairani tidak untuk ikuti UN tahun ini. " Itu tidak benar. Bila lah kami ingin (melarang UN) telah dari dahulu saat ujian semester atau ujian akhir sekolah (UAS), " kata Agus, Jumat (1 April 2016).
Agus mengaku, sampai kini pihak sekolah telah berulang-kali keluarkan peringatan pada Khairani supaya segera melunasi tunggakan itu. Tetapi Agus kembali menegaskan, peringatan itu bukanlah berarti larangan ikut UN.
Menurut Agus, peringatan pihak sekolah itu dinilai masih wajar. Sebab mulai sejak September 2015, Khairani belum membayar SPP. Bahkan juga Khairani dinilai tidak punya niat baik untuk membayarnya.
" Ya itu wajarlah, dimanapun sekolahnya bila dicuekin sama sekali begitu pasti ada warning-nya, " kata Agus.
(nusapos.com/Andra/rls)
Read more info "Masih Ada Sekolah yang Melarang Siswa Ikut UN karena Belum Bayar SPP" on the next page :
Editor :Tim NP