Nobar Film G 30 S PKI, Kodim 0701 Banyumas Libatkan Ormas, Pemuda, Pelajar dan Santri
Purwokerto : Komando Distrik Militer (Kodim) 0701 Banyumas mengajak prajurit, aparatur sipil negara (ASN), ormas-ormas, para santri dan generasi muda nonton bareng (nobar) film pengkhianatan Gerakan 30 S PKI di aula Makodim 0701 Banyumas, Jum’at malam (22/9/2017).
Tercatat sekitar 100 orang lebih mengikuti nobar tersebut yang berasal dari ormas diantaranya pemuda Pancasila, banser, mahasiswa, pramuka dan prajurit serta ASN Makodim 0701 Banyumas.
Tampak hadir menyaksikan Komandan Kodim 0701 Banyumas, Letkol Infantri Erwin Eka Gita Yuana, Kasdim, dan jajaran Korem 071 Wijayakusuma.
Dandim 0701 Banyumas Letkol Infantri Erwin Eka Gita Yuana menjelaskan, dengan nobar itu, para generasi muda bisa memahami sejarah perjalanan bangsa.
”Mengingatkan masalah sejarah Indonesia, jadi kita tidak boleh melupakan sejarah, sehingga kita ambil dari sejarah ini yang merupakan juga bagian sejarah kelam, sehingga diambil hikmahnya dan tidak terulang lagi, itu pesan moral yang disampaikan dengan nonton bersama ini."
"Jadi terutama bagi generasi muda yang sekarang juga pelajaran sejarah sudah tidak ada lagi di sekolah, ini merupakan bagian pembelajaran juga dari sejarah,” terangnya kepada media sebelum pemutaran film di Makodim 0701 Banyumas, Jum'at malam.
Selain di Makodim 0701 Banyumas, Nobar Film tersebut juga digelar di Balai Kelurahan Purwokerto Wetan, Kecamatan Purwokerto Utara yang dihadiri tokoh agama, karangtaruna, para santri dan pelajar.
Lurah Purwokerto Wetan Dwiyono mengatakan, melalui nobar tersebut, mengingatkan generasi muda bahwa ada satu peristiwa kelam yang terlupakan sebelum peringatan hari kesaktian Pancasila 1 Oktober.
”Kalau idenya seminggu yang lalu, kan kit tadinya berawal dari hari kesaktian Pancasila yang sudah diperingati setiap tahun, kemudian kita kadang-kadang lupa bahwa satu hari sebelum hari kesaktian Pancasila kan ada peristiwa sejarah yang kadang-kadang sering dilupakan."
"Paling kadang-kadang pemuda ingatnya masang bendera setengah tiang, tapi apa hikmah dari awal mulanya dengan tragedi nasional belum begitu paham,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Danramil 01/Purwokerto Utara, Kapten Infantri Putut Widodo.
"Dengan diputarnya ini bukan berarti kita untuk menggambarkan ataupun untuk mengeluarkan kebencian, ini kita putar kembali biar para pemuda tentunya melihat kejadian masa lampau. Kan anak-anak sekarang sama sekali belum pernah melihat dan sejarahnya pun mungkin saat sekarang dengan kita dulu sejarahnya lain, agak contohnya sudah banyak dikaburkan artinya tidak lengkap seperti jaman-jaman kita dulu, sejarah sampai mendetail," tuturnya.
Sementara salah satu warga jalan Martadireja 1, RT 4 RW 5 Kelurahan Purwokerto Wetan, Sahlan yang pada tahun 1965 itu berusia 16 tahun merasakan sendiri bagaimana situas sangat mencekam waktu itu.
"Keadaanya sangat mencekam sekali, jalan-jalan saja di barikade di kasih kawat duri," ungkapnya.
Sahlan berharap kejadian kelam tersebut tidak terulang kembali. (Rri)
Editor :Tim NP