Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi mulai bermunculannya titik panas yang mengindikasikan terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karlahut) di Provinsi Riau, seperti terpantau di Kabupaten Bengkalis dalam beberapa hari terakhir.
Sabila, Staf BMKG Stasiun Pekanbaru menjelaskan titik panas yang dideteksi dengan tingkat kepercayaan diatas 50 persen. Menurutnya, tidak dapat dipastikan titik panas itu sebagai titik api atau indikasi kuat adanya kebakaran lahan karena biasanya titik panas tersebut tingkat kepercayaan biasanya diatas 70 persen.
"Berdasarkan catatan BMKG bahwa titik panas yang terpantau merupakan yang pertama dalam bebrapa sepekan terakhir seiring dengan mulai panca roba walaupun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Riau," ungkapnya kepada Radio Republik Indonesia, Minggu (16/4/2017).
Lebih jauh Sabila mengatakan selama bulan April 2017, Provinsi Riau dalam kondisi aman dari bencana kebakaran. Namun memasuki pada bulan Mei mendatang, cuaca di Riau akan mengalami transisi dari musim hujan ke musim kemarau dengan waktu musim kemarau diprediksi akan berlangsung hingga bulan September 2017 mendatang.
"Jika sudah memasuki musim kemarau maka perlu diwaspadai karena curah hujan diprediksi akan sangat minim yang berpotensi menyebabkan terjadinya Karhutla," urainya.
Selanjutnya juga perlu diwaspadai pada periode Mei - September mendatang karena pola angin akan berubah dari selatan ke utara, artinya jika terjadi kebakaran maka asap akan lari ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura.Sebelumnya diberitakan BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi 15 titik panas yang mengindikasikan Karhutla di Pulau Sumatera, pada hari Minggu tanggal 9 April 2017 lalu.
"Titik panas terdeteksi menyebar di empat provinsi di Riau," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin.
Menurutnya, titik panas yang terpantau satelit Terra dan Aqua dengan tingkat kepercayaan diatas 50 persen pada Minggu pukul 16.00 WIB menyebar di Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Riau.
Jambi terdeteksi empat titik panas, sementara di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan masing-masing dua titik panas. Sementara itu, Provinsi Riau merupakan provinsi dengan dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni tujuh titik. Ia menjabarkan, tujuh titik panas di Riau masing-masing terpantau di tiga kabupaten.
"Indragiri Hulu empat titik panas, diikuti Pelalawan dua titik dan Kampar satu titik," urainya menjabarkan sebaran titik panas di Riau.
Sugarin mengatakan dari tujuh titik panas di Riau, empat titik dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat adanya kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen. Empat titik api tersebut menyebar di Indragiri Hulu tiga titik dan Pelalawan satu titik.
Meski begitu, Sugarin mengatakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Riau. (rri)